Benarkah ini yang namanya cinta? Entahlah, yang kutahu setiap bertemu denganya
detak jantungku tak lagi seirama.
Aneh sekali bukan? Padahal baru beberapa kali bertemu, tapi perasaan itu sungguh sangat mengganggu. Aku sering senyum-senyum sendiri, saat dengan sembunyi-sembunyi mengintip facebooknya. Sekedar ingin tahu kabarnya, meski jarang menyapa walaupun sedang sama-sama online. Pernah beberapa kali ada obrolan lewat inbox, berbagi cerita, tawa dan canda. Dan setelahnya, aku sendiri yang menerka-nerka perasaan aneh yang berkecamuk di hatiku.
Mungkin saja angin yang terlalu lembut menyampaikan pesan, pada harap yang kusemai di setiap sujud malamku. Namun aku tak berani mengatakan, hanya memendamnya dalam-dalam. Sebab dia pun masih biasa-biasa saja, bahkan kadang terkesan dingin.
Perasaan aneh itu aku pendam hampir setahun lamanya, masih mengakar bahkan kian berkembang saat pertemanan kita semakin dekat. Dan setahun itu aku mulai merawat rindu di taman hatiku kepadanya. Hingga suatu senja, di kala langit merona jingga, dia datang membawa kabar gembiranya, seketika langit mendadak mendung, dan hujan mengambang di langit hatiku.
“Sya tau ga, aku lagi jatuh cinta.” katamu dengan suara penuh syahdu, namun serasa bagai petir yang menyambar telingaku.
“Selamat ya Ren, akhirnya kamu punya pujaan hati juga.” jawabku, dengan segera memalingkan wajah kecewaku agar tak nampak olehnya, lalu dengan susah payah aku sunggingkan senyum.
“makasih Sya, aku seneng banget meskipun yaaa harus jarak jauh.” Ucapnya menjelaskan.
"Dekatkanlah dengan doa Ren, kamu harus semangat, perjuangkan terus kebahagiaan kamu oke!”
Aku selalu berusaha menyemangatinya, ketika dia mulai menyerah. Aku sembuyikan segala perasaan cemburuku, aku tak ingin sahabatku kecewa. Biarlah dia merawat mawar yang sedang tumbuh di berandanya, sebab aku tahu, dia sangat menginginkan keindahan dan kebahagiaan ada di hari-harinya.
Kamu gak usah cemburu Sya, biarkan dia bahagia dengan cintanya. Pendam
dalam-dalam perasaanmu itu, dia hanya menganggapmu sahabat, tak lebih
dari itu! lirihku membatin.
**
Seminggu sudah tak ada lagi kabar dari Rendi, mungkin dia sudah lupa
sama aku, atau dia sedang sibuk dengan kebahagiaannya. Baru saja terlintas tentangnya, tiba-tiba dia datang menyapaku kembali.
“Sya, kamu kemana aja sih? Aku lagi bingung neh, kayanya kebahagiaan itu mulai menjauh deh”
“Aku ada aja. kamunya sibuk pacaran sih. Emangnya kenapa Ren?” Tanyaku penasaran.
“Gak tau Sya, dia tuh cewe yang ngebingungin tau ga. marah diem, bete diem, kan aku jadi bingung harus gimana”
“Sabar Ren, namanya juga pacaran pasti ada bingungnya“ucapku dengan sedikit bercanda.
"ih elu Sya ga jelas banget"
Rendi pun tersenyum, dan aku hanya mampu memandang senyumannya. Ah,
senyuman itu...senyuman yang selalu menggetarkan hatiku.
“oya Sya, kamu sama ka Eza gimana?”
“Apa sih Ren ko jadi nyambung kesana” jawabku sambil memalingkan
muka yang kemudian ditahan Rendi dengan pegangan erat dipundakku. Dia menarikku
sehingga seperti tak ada jarak diantara kita, sungguh situasi yang membuatku ga
karuan.
“Sya, aku tau perasaan ka Eza ke kamu kaya gimana dia beneran
sayang sama kamu bahkan dia rela ngelakuin apa aja demi kamu Sya. Kalo kamu ga
percaya aku saksinya. Aku berani jamin kalo ka Eza ga akan ngecewain kamu. Kamu
mau ya jadi pacar dia. Please ”
Degg!!! Serasa ada pukulan mendarat ke dadaku, sesak! Bagaimana bisa lelaki yang aku kagumi, aku cintai, memintaku pacaran dengan orang lain.
Degg!!! Serasa ada pukulan mendarat ke dadaku, sesak! Bagaimana bisa lelaki yang aku kagumi, aku cintai, memintaku pacaran dengan orang lain.
“maaf Ren, kalo kamu merasa sahabat aku kamu ga akan ngelakuin
kaya gini” dan aku pergi meninggalkan Rendi, dengan menahan tangisku dan luka
dihatiku yang teramat sakit.
Andai kamu tau Ren setiap pagi membuka mata ada kerinduan yang menjelajahi hatiku, sebuah kerinduan yang amat tinggi yang menyentuh langit-langit hatiku. Tapi kamu menambahkan awan hitam dan petir ketika aku mulai bermimpi tentangmu yang melihatku bukan lagi sebagai sahabat melainkan sebagi seseorang yang mencintaimu.
***
Setelah hari itu, hari-hariku kembali sepi. Namun tidak dengan rindu dan cinta yang aku miliki, semakin hari aku semakin mencintai dan menggilaimu. Aku tak ingin menjauhimu meskipun luka mulai diam-diam tergores dihatiku. Setiap kali aku berusaha membencimu, rasa benci itu hilang seketika saat aku mengingatmu. Padahal sudah jelas, Rendi telah mempunyai kekasih dan dia lebih mengaharpkan aku untuk memilih orang lain dibandingkan dengannya. Terbuat dari apa hatiku? Begitu kuatnya aku memendam perasaan ini. Perasaan yang sebenarnya menyiksaku. Ah entahlah!
Hampir sebulan aku dan Rendi tanpa saling bertukar kabar. Dan aku mulai bosan dengan rutinitasku. Aku memilih pergi ke suatu tempat untuk mengasingkan diri, setidaknya mencari sebuah ketenangan. Tapi mungkin sudah menjadi takdir Tuhan, akhirnya aku kembali bertemu Rendi.
"Sya kemana aja ih kangen tau, kangen yang suka jailin tau ga" ucap Rendi sambil tersenyum.
Aku melihat lagi senyum itu Tuhan, senyum yang menerbangkan sayap-sayap kecilku, senyum yang selalu membuatku menggilaimu, dan aku ingin terus gila, ingin terus sakit jiwa dan aku akan tetap mencintaimu seperti ini. Ya jatuh cinta diam-diam dan merasakan perasaan ini sendirian. Membiarkan perasaan ini tertuju padamu dan membiarkan namamu terukir indah dihatiku.
Biarlah aku melakukan caraku sendiri untuk mencintaimu. Memilih untuk
diam, memperhatikanmu dari jauh, atau mendoakanmu diam-diam. Setiap orang punya
caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta.
Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan
tangisnya sendiri. Dan aku punya caraku sendiri tentang rasaku, rasa cintaku
yang aku ungkapkan dalam diam.
0 komentar on "Cerpen: MENCINTAI DALAM DIAM"
Posting Komentar